Showing posts with label Learn to write. Show all posts
Showing posts with label Learn to write. Show all posts

Saturday, May 3, 2008

Tips menulis cerpen

Menulis cerpen (cerita pendek) dapat menjadi permulaan karir yang baik sebagai penulis fiksi. Menulis cerita yang sangat panjang, seperti novel pastilah lebih membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Belum lagi mencari penerbit yang mau menerbitkannya. Cerita pendek dapat menjadi terobosan dalam karir menulis. Lebih banyak alternatif bagi penulis cerita pendek untuk dikenal, daripada novel. Majalah dan koran banyak yang menerima cerita pendek. Blog bisa juga menjadi alternatif dimuatnya cerita pendek di internet. Seringnya nama penulis muncul dalam cerita pendek yang dimuat di berbagai majalah dan koran, bisa menjadi pertimbangan positif bagi penerbit, bila penulis tersebut menyodorkan naskah cerita yang lebih panjang seperti novel ke penerbit.

Tulisan ini ditujukan pada penulis pemula yang ingin menulis cerita pendek dengan baik. Sesuai namanya, menulis cerita pendek memiliki keunikan tersendiri.

Tema
Sebaiknya Anda memiliki tema yang jelas saat menulis cerpen, tentang cerita seperti apa yang ingin Anda tulis. Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca. Dengan adanya tema, yang menjadi tulang punggung cerita, maka cerpen Anda akan meninggalkan kesan tersendiri pada pembaca. Penetapan tema dari awal juga berguna agar saat menulis, Anda tidak terlalu jauh melenceng dari cerita sudah ditetapkan.

Alur cerita
Fokuslah pada satu alur cerita sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan sebelumnya. Karakter tambahan, sejarah, latar belakang, dan detail lainnya sebaiknya memperkuat alur cerita ini. Percabangan alur cerita mutlak harus dihindari.

Karakter
Jangan menggunakan jumlah karakter yang terlalu banyak. Semakin banyak karakter bisa membuat cerita Anda menjadi terlalu panjang dan tidak fokus pada tema. Gunakan karakter secukupnya yang sesuai dengan alur cerita.

Sepenggal kisah hidup
Namanya saja cerita pendek, sehingga cerpen hanya menceritakan tentang sekelumit kisah dalam hidup karakter yang Anda buat. Jika karakter Anda memiliki kisah hidup yang sangat panjang, tulis hanya sebagai background yang menjadi penguat tema cerita tersebut. Tekankan hanya pada satu bagian dari hidupnya untuk ditulis.

Penggunaan kata
Bagaimanapun cerpen memiliki keterbatasan dalam jumlah kata yang bisa dipakai, apalagi cerita super pendek seperti flash fiction. Seringkali majalah atau koran tertentu benar-benar membatasi jumlah kata yang bisa dipakai. Jadi, Anda sebaiknya menggunakan pilihan kata yang efisien dan menghindari menggunakan kalimat deskriptif yang berpanjang-panjang.

Impresi
Secara tradisional, cerpen dimulai dengan pengenalan karakter, konflik, dan resolusi. Alternatif lain, adalah Anda dapat membuat impresi pada pembaca justru pada awal cerita, dengan langsung menghadirkan konflik. Karakter Anda sudah berada di dalam kekacauan besar. Hal ini akan membuat pembaca semakin penasaran, ada apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana karakter tersebut akan mengatasi persoalannya. Pengenalan karakter, setting, dll dapat dilakukan secara perlahan-lahan di bagian cerita berikutnya.

Kejutan
Beri kejutan pada pembaca di akhir cerita. Hindari membuat akhir cerita yang mudah ditebak.

Konklusi
Jangan biarkan pembaca meraba-raba dalam gelap pada akhir cerita Anda. Pastikan konklusi di akhir cerita Anda memuaskan, tetapi juga tidak mudah ditebak. Pembaca perlu dibuat berkesan pada akhir cerita, tentang apa yang terjadi pada karakter tersebut. Akhir cerita yang mengesankan akan selalu diingat oleh pembaca, bahkan setelah lama mereka selesai membaca cerita tersebut.

Ditulis oleh Didik Wijaya

Find Idea

Kemampuan otak dalam menelorkan ide-ide bisa diibaratkan seperti rasa gatal. Apabila digaruk maka akan menyebabkan rasa gatal pada bagian yang lain. Ketika rasa gatal digaruk bukannya kesembuhan yang didapat tetapi gatal yang semakin menjadi-jadi. Namun kalau gatal tersebut didiamkan saja maka akan hilang dengan sendirinya. Begitu juga dalam menulis. Ketika pikiran sudah terasa gatal untuk menulis maka jangan membiarkan rasa ”gatal” itu mati. Namun segeralah untuk menggaruknya agar muncul rasa gatal yang lain.

Begitulah sebaiknya yang dilakukan para penulis maupun calon penulis. Seorang penulis harus segera tanggap terhadap sinyal yang selalu dikirmkan oleh inderanya masing-masing. Sekecil apapun sinyal yang dikirimkan harus segera ditangkap agar sinyal tersebut tidak lenyap. Sayangnya, kita sering meremehkan sinyal-sinyal yang datang karena menganggap bahwa itu bukanlah sesuatu yang penting. Dan ada kesukaan dari kita untuk melewatkan begitu saja ide-ide ”biasa” tersebut, dengan alasan menunggu yang brilian. Bahkan banyak yang berusaha membunuhnya.

Padahal, untuk mendapatkan ide yang brilian tidak semudah mengedipkan mata (meskipun juga tidak sesulit menyeterika pakaian). Untuk mendapatkan ide brilian harus melalui sebuah proses berpikir. Untuk itu ketika anda sedang berusaha untuk menemukan ide yang brilian maka harus menyingkap dahulu ide-ide ”biasa” yang berserakan di dalam pikiran kita.

Pengalaman yang saya alami selama ini ide-ide yang saya anggap brilian baru muncul ketika ide-ide biasa sudah keluar dari otak. Ide brilian bertempat di bawah-ide-ide pada umumnya. Sehingga untuk mendapatkan ide tersebut kita harus mencarinya. Tidak cukup merenungkan saja. Banyak diantara kita yang beranggapan bahwa untuk menghasilkan ide yang brilian harus merenung lama. Bagi saya tidak, sebuah ide brilian tidak akan muncul ketika kita merenung.

Akhirnya, tugas kita sebenarnya bukanlah menciptakan ide-ide brilian. Hak mencipta hanyalah milik Allah. Semua ide itu berasal dari Allah. Manusia hanya dituntut untuk memfasilitasi agar ide-ide tersebut bisa tersalurkan dengan baik. Jadi, kalau rasa gatal sudah diciptakan Allah kenapa kita tidak berusaha untuk menggaruknya.

10 Resep jadi Penulis

1//
Suka Membaca

Membaca tentu bukan asal baca, apalagi membaca apa saja. Kita perlu menetapkan skala prioritas apa yang kita baca sesuai dengan kebutuhan kita. Misalkan Anda seorang muslim, dalam satu bulan minimal tiga jenis buku yang perlu dibaca. Buku tentang keagamaan, buku sesuai dengan latarbelakang pendidikan dan buku yang sesuai dengan minatnya. Dengan skala prioritas tersebut otak kita tidak dijejali beragam informasi yang justru membuat kita pusing, tapi informasi yang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai seorang penulis nantinya.

2//
Suka Kliping

Kliping tak hanya soal gunting menggunting koran. Jaman sekarang, kliping bisa berupa data digital. Yah, semua orang tahu, kita tinggal mengunduh materi-materi sesuai dengan kebutuhan kita melalui jejaring dunia maya. Ingat, jangan terjebak untuk mengoleksi banyak informasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Sekali lagi tetapkan prioritas untuk mengkoleksi informasi sebaga bahan mentah untuk karya yang akan kita buat kelak. Kliping gunanya hanyalah untuk menambah khasanah karya kita, yang paling penting tetap orisinalitas ide kita dalam sebuah karya.

3//
Miliki Diary

Diary (catatan harian) perlu dimiliki oleh (calon) penulis. Diary akan melatih orang untuk jujur pada diri sendiri. Menuliskan sepenggal goresan spontanitas apa yang dirasakan. Kelak menulis secara jujur akan sangat berguna bagi karier kepenulisan. Sebab, bisa mengantarkan penulis untuk menulis dengan hati. Yah, harapannya ketika orang menulis dengan hati, pesannya akan sampai ke hati juga. Mulia sekali bukan penulis yang seperti ini.

4//
Miliki Buku Sakti

Berbeda dengan diary. Buku sakti adalah bank data. Berisi kutipan buku-buku yang pernah kita baca, hasil-hasil penelitian dan juga momen-momen penting yang terjadi di dunia. Untuk apa buku sakti ini perlu kita miliki? Yah, seperti papatah mengatakan the palest ink is better than the best memory (tinta yang kabur sekalipun masih lebih baik daripada ingatan yang tajam). Ketika kita ingin menulis sebuah karya, untuk memperkaya khasanah kita tinggal membuka bank data tersebut. Misalnya ketika akan menulis artikel berjudul “Televisi itu Candu”, untuk memperkayanya, kita tinggal membaca rangkuman dan kutipan buku terkait televisi yang pernah kita baca beserta hasil-hasil penelitian terkait dengannya. Adanya buku sakti ini sebenarnya adalah usaha sebuah manajemen karier kepenulisan agar lebih tertata dengan baik.

5//
Miliki Blog

Blog ibarat tabungan karya. Memang lebih bagus kalau blog kita itu spesifik dalam arti wadah menuliskan hal-hal yang tidak beragam. Satu tema saja. Dengan begitu, ketika kita menuliskan karya dalam blog kita, sesungguhnya adalah sedang menabung. Kita menabung karya yang punya potensi kelak disulap menjadi sebuah buku. Selain itu, memiliki blog juga bisa sebagai ajang latihan kita dalam menuliskan karya. Disana tulisan kita akan mendapat respon dari pembaca. Dengan demikian menjadi sebuah pembelajaran dan masukan tersendiri agar kelak kita bisa berkarya lebih baik lagi.

6//
Gabung Milis Kepenulisan

Milis adalah forun diskusi di dunia maya. Kita bisa mengikutinya, banyak sekali milis tentang dunia kepenulisan. Misalnya milis terbesar kepenulisan seperti penulislepas@yahoogroups.com, forum_lingkarpena@yahoogroups.com, apresiasi-sastra@yahoogroups.com dsb. Dengan bergabung dengan milis kepenulisan, kita bisa mendapat banyak informasi yang mendukung karier sebagai penulis seperti kiat-kiat kepenulisan, bedah karya maupun beragam informasi lomba kepenulisan di mana kita juga bisa berkiprah di dalamnya.

7//
Kunjungi Perpustakaan dan Toko Buku

Kemana orang berlibur? Bisa ke pantai, mall, tempat-tempat wisata dsb. Tapi bagi orang yang ngebet pingin jadi penulis, liburan bisa digunakan untuk mengunjungi perpustakaan. Disana kita bisa refresing sekaligus menambah wawasan bagi otak kita. Ke toko buku juga perlu, selain kita bisa membaca sekilas buku-buku yang ada. Kita juga bisa mendapatkan inspirasi judul-judul buku yang laris manis di pasaran. Selanjutnya, kita berharap bisa memunculkan karya atau buku-buku yang digemari masyarakat pula.

8//
Datangi Acara Kepenulisan

Penting sekali yang ini. Dengan mendatangi acara kepenulisan, terutama acara bedah buku, kita akan banyak mendapatkan ilmu. Biasanya adalah ilmu tentang proses kreatif sang pengarang buku. Bagaimana lika-likunya, mulai dari mendapatkan inspirasi, proses penulisan, mencari penerbit, sampai menyaksikan bukunya bisa dibaca orang lain dan barangkali bisa best seller, dicetak berulang-ulang. Dengan mengetahui cerita tersebut, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Menjadi penulis “hebat”. Tentu dengan cara yang berbeda.
9//
Ikuti Komunitas Kepenulisan

Ikut komunitas kepenulisan itu perlu. Dengan mengikuti komunitas kepenulisan kita bisa berbagi pengalaman dalam berkarya. Begitu juga bisa saling memberikan kritikan dan masukan pada karya yang dibuat anggota. Dengan begitu akan matang sebelum karya benar-benar dikirimkan ke berbagai media maupun penerbit. Dengan ikut komunitas pula akan memberikan semangat kepada kita untuk berkarya. Biasanya kita akan terpacu dan bersemangat berkarya ketika ada salah satu anggota yang karyanya bisa tembus ke media massa maupun bukunya diterbitkan.

10//
Angkat Mentor Inspiratif

Siapa mentor inspiratif itu? Dia adalah penulis favorit kita. Kita perlu mengangkat mentor walaupun tanpa kontak dengannya. Cukup kita mengakrabi karya-karyanya. Mentor ini gunanya dalam soal gaya menulis maupun bercerita. Bukan hal yang haram ketika kita mengikuti gaya menulis seseorang. Yang penting kita tetap punya ide orisinil tersendiri. Adanya mentor yang kita angkat sendiri ini akan membantu kita. Misalnya, akan menulis novel inspiratif, kita perlu mengangkat Paulo Choelo sebagai mentor. Ini sekedar contoh saja. Jadi karya kita nantinya berbau karya dia dalam soal gaya kepenulisan.